Tuesday, April 11, 2017

Kunjungan ATC Singapore ke Tanjungpinang

Tanggal 10 April 2017, ATC Tanjungpinang kedatangan tamu istimewa. Adalah 47 personil ATC dari Singapore datang berkunjung ke Tanjungpinang. Mereka dipimpin oleh Mr Surjit Singh yang merupakan Presiden ATCAS (IATCAnya Singapore).

Kegiatan ini memanglah rutin dilaksanakan, walaupun tidak setiap tahun. Terakhir mereka datang berkunjung adalah sekitar tahun 2012 (kalo ane gak lupa). Tujuan kunjungan adalah bersilaturrahmi, kebetulan yang datang kali ini didominasi ATC2 muda. Biasa hanya berkoordinasi melalui telpon, kali ini bisa langsung bertatap muka. Saling berkenalan dan ramah tamah.

Disambut dengan hujan gerimis, temen2 ATC dari Singapore sampai di Gedung Radar Tanjungpinang sekitar pukul 10.30 WIB dan langsung disambut Pak GM Airnav Tanjungpinang beserta jajaran. Kegiatan dilanjutkan di ruang rapat untuk membahas permasalahan di lapangan. Banyak pertanyaan, terutama dari ATC2 yang masih baru. Diskusi berlangsung seru namun dalam suasana santai dan penuh canda tawa. Acara dilanjutkan dengan pertukaran cinderamata dan kunjungan ke ops room radar dan gedung Tower. 

Kegiatan selesai dan kemudian dilanjutkan makan siang bersama. Suasana penuh kekeluargaan, walaupun hanya beberapa jam saja namun banyak manfaat yang kami dapatkan dari kunjungan ini. Dari koordinasi tentang operasional di lapangan sampai dengan saling mengenal satu dan lainnya. Tidak hanya sekedar bertemu melalui suara di pesawat telepon, namun bisa bertatap muka dan bekenalan langsung.

Ini foto yang ane dapat dari salah satu ATC Spore :

Pak GM dan Jeng Afin sedang berdiskusi dengan MasBro2 dan MbakBro2 ATC Spore
Tuh, rame kan...
Ini foto2 yg ane ambil pada saat kegiatan :

Cinderamata dari Temen2 ATC Spore
Kalo ini dari temen2 ATC Tanjungpinang buat mereka
Mbak Afin sedang menjawab beberapa pertanyaan dari temen2 ATC Spore
Tuh, rame kan...
Serius tapi santai...

Saturday, December 31, 2016

Catatan Akhir Tahun 2016

Gile benerrrr... ane udah kaya’ pengamat penerbangan aja ya, segala pake nulis “catatan akhir tahun”. Eheheh... ya gpp lah, kan nulisnya di blog sendiri, bukan di surat kabar nasional. Yuk kita mulai aja ya...

Ada beberapa hal yg menjadi perhatian ane di tahun 2016. Dan yg paling jadi perhatian adalah banyaknya kasus kecelakaan pesawat di tahun 2016. Ane gak punya data resmi maupun perbandingan kuantitasnya dengan tahun2 sebelumnya. Lebih banyak ataupun lebih sedikit, yg namanya kecelakaan ya harapan ane jangan sampe terjadi.

Emang sih, banyak faktor yg mempengaruhi terjadinya kecelakaan pesawat. Dari faktor alam, faktor manusia, faktor mesin, faktor prosedur, dan macem2. Dan setiap terjadi kecelakaan, setiap kali itu juga penyebab kecelakaan diteliti, dipelajari, dan dibuatkan kesimpulan, mengapa kecelakaan tersebut bisa terjadi. Lalu dicarikan solusinya, supaya hal tersebut tidak terjadi lagi. Bukan mencari siapa yg salah, namun mencari kenapa kesalahan bisa terjadi. Kalo bisa tau kenapa kesalahan itu bisa terjadi, ya dicarikan solusinya supaya tidak terulang kembali.

Dunia penerbangan adalah dunia yg serius dan disiplin. Dunia penerbangan penuh dengan aturan. Dan aturan2 tersebut dibuat untuk memagari kita supaya tidak berbuat kesalahan. Pesawat, kru pesawat, teknisi pesawat, kru di darat, petugas bandara, petugas airnav, kendaraan di apron, mesin dan lain2 semuanya ada aturannya. Ada yg namanya SOP, dan SOP dibuat bukan untuk mempersulit, namun untuk mempermudah kita, para Airmen untuk bekerja dengan baik dan benar.

Semuanya harus bersertifikat, dari pesawat, kru pesawat, petugas di bandara, petugas airnav, dan lain2 memiliki sertifikat dan selalu diuji oleh regulator dalam hal ini Kementerian Perhubungan.

Dengan bekerja baik dan benar, melaksanakan SOP dengan seksama, maka pelayanan yg diberikan kepada konsumen sudah pasti bisa diacungi jempol. Tujuannya kan memberikan kepuasan kepada konsumen, yaitu penumpang pesawat.

Catatan :
Mari kita jadikan pengalaman dan kejadian di tahun 2016 sebuah pelajaran penting untuk meningkatkan pelayanan terhadap keselamatan penerbangan.

Harapan :
Semoga di tahun 2017, keselamatan penerbangan bisa dilaksanakan dengan baik. Tidak ada incident maupun accident.

Ngayal :
Semoga ane bisa jadi Dirut Airnav Indonesia...


Selamat tinggal tahun 2016, selamat datang tahun 2017, semoga Allah melindungi kita semua. Amin...

Tuesday, December 27, 2016

Bahaya Hewan Liar

Sekitar 3 tahun yang lalu, ane pernah menulis tentang “Bird Strike”, gangguan burung terhadap pesawat udara. sepertinya sepele, namun ternyata, gangguan burung bisa menyebabkan celaka. Korban materi dan bahkan bisa menimbulkan korban jiwa. Gangguan burung atau dalam dunia penerbangan biasa dikenal dengan “Bird Strike” merupakan bagian dari gangguan hewan liar di Bandara.

Hewan liar merupakan permasalahan klasik di Bandara, dan ternyata setiap Bandara punya permasalahan yg berbeda-beda dengan hewan yg berbeda juga jenisnya. Untuk menghindari resiko yg ditimbulkan oleh gangguan hewan liar, maka penanganan hewan liar harus dikerjakan dengan baik. Maka dibuatlah “Manajemen Bahaya Hewan Liar” atau bahasa gaulnya “Wildlife Hazard Management”

Bahkan pemerintah sangat serius dalam menangani bahaya hewan liar di Bandara. Maka terbitlah Peraturan Dirjenhubud nomor : SKEP/42/III/2010 Tentang Petunjuk dan Tata Cara Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil bagian 139 – 03 Manajemen Bahaya Hewan Liar di Bandar Udara dan Sekitarnya (Advisory Circular CASR 139 – 03, Wildlife Hazard Management on or in the Vicinity of an Aerodrome) dan Peraturan Menteri Perhubungan PM 55 Tahun 2015 Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) bagian 139.073 Manajemen Bahaya Hewan Liar (Wildlife Hazard Management) dan Lingkungan.

Yg dilakukan dalam Manajemen Bahaya Hewan Liar antara lain adalah :

Identifikasi, hewan apa saja yg membahayakan penerbangan. Semisal burung, diidentifikasi, jenis burung apa. Masih banyak lagi hewan2 liar yg membahayakan penerbangan, seperti : Babi Hutan, Biawak, Hewan Ternak seperti Sapi dan Kambing, lalu ada Ular, bahkan hewan kecil seperti Kepik juga bisa menimbulkan bahaya bagi penerbangan.

Setelah diidentifikasi, maka dipelajari mengapa hewan tersebut bisa berada di Bandara. Oh ternyata rumput di Bandara cukup tinggi sehingga memudahkan burung untuk membuat sarang. Oh ternyata rumput di Bandara terlalu rendah, sehingga memudahkan burung untuk mencari mangsa di darat. Oh ternyata di dekat Bandara terdapat hutan, dan pagar parimeter ada yang rusak, sehingga Babi Hutan bisa masuk ke area Bandara.

Setelah dipelajari penyebabnya, dicarikan solusi supaya hal ini tidak terjadi. Semisal untuk penanganan burung liar dengan mengatur ketinggian rumput di Bandara sehingga tidak menarik burung untuk datang, atau menggunakan suara2 yg dirancang khusus untuk mengusir burung. Misalnya lagi dengan membuat pagar parimeter di sekeliling Bandara, sehingga tidak ada hewan darat seperti Babi Hutan atau Anjing liar yg masuk ke area Bandara. Atau menutup semua gorong2 dengan kawat atau besi teralis, sehingga biawak atau ular tidak bisa masuk. Macem2 dan yg jelas dipelajari dan dicarikan solusi terbaiknya.

Manajemen Bahaya Hewan Liar tidak hanya sampai disitu, namun dibuatkan juga SOP Penanganannya, Metode Pelaporan, bahkan Workshop mengenai hal tersebut juga kerap dilaksanakan, baik oleh Regulator dalam hal ini adalah Pemerintah, pihak pengelola Bandara maupun Navigasi Penerbangan termasuk juga Operator Penerbangan.

Saturday, December 24, 2016

Peak Season, antara Keluarga dan Pengabdian

Peak Season, atau kalo bahasa sederhananya adalah musim sibuk atau lebih enaknya lagi musim liburan dimana dalam dunia penerbangan, arus penumpang dan barang plus jumlah penerbangan meningkat. Kalo dah gini, biasanya petugas dilarang cuti. Kenapa dilarang cuti...??? Karena peningkatan jumlah penerbangan berarti memaksa kita sebagai petugas untuk lebih konsentrasi dalam bertugas. Lho, emang biasanya gak konsentrasi ya? Ya konsentrasi juga Bro, cuma yg namanya jumlah pesawat yg dilayani meningkat, konsentrasi ya harus ditingkatkan juga.

Jikalau petugas berkurang (karena cuti), padahal beban kerja menigkat, sangat beresiko untuk terjadinya insiden atau aksiden. Kemampuan manusia kan ada batasnya, jika beban kerja menigkat, sedangkan jumlah pekerja berkurang, bisa dibayangkan resiko apa yg akan terjadi.

Kami2 sebagai petugas dituntut untuk lebih berkonsentrasi dalam bertugas. Membantu kelancaran para pengguna jasa penerbangan. Bertugas menjamin keselamatan penerbangan dari keberangkatan sampai ke tujuan dengan selamat dan bahagia.

Waktu dengan keluarga tidak hilang, hanya berkurang aja. Kan rata2 kerja operasional adalah shift. Ya kalo dinas pagi, siangnya bisa bekumpul dengan keluarga. Kalo dinas siang, kan masih ada pagi dan malam. Tinggal bagaimana kita mengaturnya.

Bekerja untuk keselamatan penerbangan adalah hal yg luar biasa. Bagaimana para petugas meninggalkan keluarga demi keselamatan orang banyak. Semoga Allah membalas pengadian rekan2 semua dengan kebaikan dunia dan akhirat.

Selamat bertugas untuk rekan2 operasional Airnav Indonesia dimanapun bertugas. Berilah pelayanan yg terbaik untuk penerbangan Indonesia. Selamat menikmati liburan untuk sodara2ku sekalian, semoga liburannya lancar dan bahagia.

Bravo Airnav Indonesia...

Wednesday, December 21, 2016

Tim SAR

Sodara2 tau Tim SAR? Pernah denger yang namanya BASARNAS? Ane yakin sodara2 pasti pernah denger apa itu Tim SAR dan apa itu BASARNAS. Kalo gak tau, ane pikir ente2 kebangetan. :p

Pekerjaan ane di Airnav, memiliki hubungan sangat erat dengan SAR. Bahkan Airnav Indonesia Kantor Cabang Pratama Tanjungpinang memiliki Perjanjian hitam di atas putih dengan Kantor SAR Tanjungpinang. Tujuannya adalah memudahkan koordinasi apabila terjadi musibah pesawat udara yg berada dalam tanggung jawab Airnav Tanjungpinang.

Gak cuma perjanjian hitam di atas putih aja sodara2. Pada saat Kantor SAR Tanjungpinang melakukan latihan SAR, Airnav Tanjungpinang terlibat. Dan itu rutin dilakukan setiap tahunnya. Latihan SAR rutin dilakukan untuk meningkatkan kinerja Tim SAR dan unsur2 lain sebagai pendukungnya. 

Ada yg namanya SAR Indopura, latihan SAR gabungan Indonesia dan Singapura. Skenarionya macam2, terkadang diskenariokan pesawat jatuh, terkadang kapal tenggelam, dll. Di latihan tersebut dilibatkan semua unsur, dari SAR Tanjungpinang, SAR Singapura, TNI, POLRI, dan sudah tentu Airnav Tanjungpinang. Latihan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan tiap2 personil masing2 Instansi dan juga melatih koordinasi di lapangan. Ada juga Latihan SAR intern saja, tidak melibatkan negara asing. Kegiatan ini rutin dilaksanakan.

Ane beberapa kali datang berkunjung ke Kantor SAR Tanjungpinang, dan menyaksikan sendiri bagaimana rekan2 kita di Kantor SAR sedang berlatih mengasah kemampuan. Biar bagaimanapun, Tim SAR Indonesia sangat diakui dunia ketangguhannya.

Ane sedikit menceritakan pengalaman ane terlibat dalam misi SAR pada saat musibah pesawat M28 milik POLRI yg jatuh di perairan Lingga Kepulauan Riau. Hari itu adalah Hari Sabtu, dimana pada saat itu ane sedang bersiap ke Kantor. Biasa sodara2, kalo tanggal merah, ane datang ke Kantor agak telat. Petugas ATC Radar menghubungi ane via telpon dan melaporkan bahwa Singapura melaporkan pesawat POLRI P4201 rute PAngkalpinang - Batam hilang kontak dengan Radar Singapura. Ane langsung lapor ke Pak GM Airnav dan kemudian kami sama2 ke Radar. Petugas di Radar pun segera koordinasi dengan ATS Unit di Dabo Singkep. Menurut laporan ATC Singapura, posisi terakhir pesawat ada di atas perairan Lingga. Rupanya menurut informasi dari ATS Dabo, pesawat tersebut tidak ada kontak dengan Dabo.

Kami langsung lapor ke Kantor SAR Tanjungpinang. Dari posisi terakhir pesawat yg dilaporkan ATC Singapura, kami langsung plot untuk mendapatkan koordinat lokasi terakhir. Dengan data2 yang kami dapatkan, kami lengkapi dan laporkan ke Kantor SAR untuk segera ditindaklanjuti. Siang itu juga ane dan Pak GM merapat ke Kantor SAR.

Ternyata, pada saat sampai Kantor SAR, Pak Kepala Kantor SAR Tanjungpinang beserta jajaran sudah stand by. Dan ternyata, kapal SAR sudah meluncur ke Lokasi (koordinat yg kami berikan). Dan ane baru tau, kerja Tim SAR sangatlah sistematis dan cepat. Pada saat ane sampai, ruang operasi SAR sudah sibuk. Data2 ditulis dengan cermat dan cepat. Koordinasi dengan kapal juga dilakukan dengan intensif. Bahkan koordinasi dengan instansi terkait seperti POLRI dan TNI juga sudah dilakukan, termasuk dengan SAR Singapura. Bahkan hari itu Singapura mengirimkan bantuan tiga pesawat untuk membantu pencarian. Luar biasa, disaat musibah terjadi, nilai kemanusiaan menjadi nomor satu. Semua bekerja dengan serius dan semangat. Bahkan sampai gak ingat lapar.

Sampai pada akhirnya kami mendapat laporan dari saksi mata, sekelompok nelayan di lokasi. Dari mereka kami mendapat koordinat pasti jatuhnya pesawat. Dan dipastikan juga memang itu pesawat dimaksud, karena dilokasi juga ditemukan barang2 termasuk manifest pesawat.

Misi SAR terus berlanjut. Dua Helikopter dan satu buah pesawat milik POLRI ikut membantu pencarian. Ditambah lagi Helikopter BASARNAS dan sebuah pesawat milik TNIAL ikut membantu pencarian. Ane terus berkoordinasi dengan Kantor SAR Tanjungpinang. Berdasarkan laporan dari temen2 ATC yg berdinas di Radar, segala informasi pergerakan pesawat yg terlibat dalam misi SAR ini ane laporkan ke Kantor SAR Tanjungpinang.

Operasi SAR dilaksanakan selama tujuh hari dan ditambah tiga hari dan kemudian ditutup pada tanggal 12 Desember 2016 untuk kemudian diturunkan statusnya menjadi siaga 1. Puing pesawat dibawa ke Polair Tanjungpinang, sedangkan jenasah dan barang2 korban dibawa ke Polda Kepri untuk kemudian diidentifikasi oleh tim DVI Polda Kepri.

Salut buat Tim SAR yg bekerja siang malam tak kenal lelah, baik yg di lokasi maupun yg di Kantor SAR Tanjungpinang. Pada hari penutupan operasi, ane hadir di Kantor SAR dan bertemu para petugas di lapangan. Dan ternyata gak semuanya didominasi oleh laki2, ada juga perempuannya. Satu kata yg bisa ane ucapkan untuk mereka, "HEBAT...!!!"

Tidak ada satu orangpun yg menginginkan musibah terjadi. Semua adalah kehendak Allah SWT. Semoga arwah para korban mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Amin...

Sunday, December 18, 2016

Identitas

Perhatikan deh, kalo kita bepergian pake pesawat terbang, dari mula kita membeli tiket, pihak travel selalu meminta identitas kita, supaya nama yang tertulis di tiket sesuai dengan identitas kita. Gak hanya sampai disitu sodara2, pada saat kita check in, pihak check in counter juga maminta identitas kita untuk memastikan nama yang tertera di tiket sesuai dengan nama yang tertera di identitas kita. Masih ada lagi, pada saat boarding, sebelum masuk ke pesawat, petugas boarding juga memeriksa kembali identitas kita. Jadi normalnya, bisa tiga kali kita diperiksa identitas.

Tujuannya sih bagus, untuk keamanan penerbangan dan juga keselamatan penerbangan. Jaman semakin maju, dan semakin banyak cara orang untuk melakukan hal2 yg melanggar peraturann. Untuk mengantisipasi hal2 yg tidak diinginkan, salah satu caranya ya dengan memastikan identitas penumpang di tiket memang sudah sesuai.

Simpelnya, penumpang tersebut identitasnya jelas. Seandainya terjadi tindakan kejahatan di dalam pesawat, sangatlah mudah mengidentifikasinya. Trus memupus tindakan percaloan. Dimana gak mungkin ada penumpang yang berangkat menggunakan tiket orang lain. Belum lagi kalo ada pencurian terhadap fasilitas keselamatan yamg ada di pesawat, melacaknya mudah. Kalo mau dihubung-hubungkan lagi dengan keselamatan, kaitannya ya sama asuransi. Sepertinya sepele, namun ternyata penting sekali.

Jadi untuk pembaca sekalian yg saya cintai, kalo bepergian naik pesawat terbang, pastikan nama anda yg tertera di tiket sudah sesuai dengan identitas yg anda miliki. Trus pada saat check in, dan boarding, siapkan kartu identitas anda, tujuannya untuk mempercepat proses check in dan boarding. Supaya yg antri di belakang anda gak perlu menunggu berlama-lama. Proses check in dan boarding berjalan dengan cepat. Dampaknya, pesawat bisa terbang tepat waktu tanpa harus tertunda karena hal2 sepele.

Thursday, September 22, 2016

Etika Naik Pesawat (2)

Tulisan ini adalah tambahan atas apa2 yg pernah ane tulis di Blog ane yg gak seberapa ini (Etika Naik Pesawat) sekitar tahun 2014. Dan ternyata, beberapa hari yg lalu ane bepergian ke Surabaya dan menemukan beberapa kejadian yg menurut ane sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya kita para penumpang peduli dan tau apa yang harus dilakukan.

Kebetulan pada penerbangan tersebut pesawat yang ane tumpangi (eh bukan tumpangi, tapi naiki... kalo numpang kan gak bayar ya...) adalah Boeing 737 seri 900 dimana nomer tempat duduknya sampai nomer 39 (mohon dikoreksi kalo salah ya). Dan kebetulan juga, ane dipercaya sama mbak2 Check In untuk duduk di Kursi Emergency.

Dan kebetulan lagi (kebetulan mulu), pesawat yang ane naiki tidak menggunakan fasilitas garbarata, jadi pada saat boarding, penumpang bisa masuk lewat pintu depan dan pintu belakang pake tangga biasa, lantaran kebanyakan fasilitas garbarata hanya menggunakan pintu depan saja. Lha yg namanya depan belakang buka, ane sebagai penumpang ya cari yg efisien, nomer tempat duduk ane di 30an, ya ane liwat pintu belakang downk. Taruh bagasi cabin di tempat bagasi di atas kepala, trus ane duduk.

Dan ternyata banyak penumpang yg tidak berfikiran sama dengan ane. Yang punya nomer kursi di belakang, masuk pesawat lewat pintu depan, dan yg punya nomer kursi di belakang pada lewat depan. Akhirnya di dalam pesawat, pas dekat dengan kursi yg ane tempatin terjadi kemacetan. Yg dari depan pengen ke belakang, yg dari belakang pengen ke depan. Dibutuhkan kesabaran ekstra dari Mbak2 Pramugari pada penerbangan tersebut. Bagaimana Mbak2 Pramugari tersebut dengan sabarnya mengatur duduk para penumpangnya yg pada kebingungan. Ditambah lagi beberapa penumpang yg sudah mendapat tempat duduk, gak langsung duduk di tempatnya, malah berdiri2, kan jadi macet. Hadewhhhh...

Memang sih, pada akhirnya penumpang bisa mendapatkan tempat duduk sesuai dengan yg tertera pada boarding pass nya masing2, namun memakan waktu banyak, dan butuh kerja ekstra dari Mbak2 Pramugarinya.

Masalah yg terjadi tidak hanya itu, Beberapa penumpang duduk di tempat duduk yg bukan seharus nya mereka tempati. Misalnya yg seharusnya duduk di dekat lorong, malah duduk di dekat jendela, kan jadi panjang urusan. Terpaksa Mbak2 Pramugari juga yg turun tangan.

Masih ada lagi sodara2, pada saat pesawat mendarat dan taxi menuju ke apron, sudah ada penumpang yg berdiri untuk mengambil bagasi cabin di tempat bagasi di atas. Lha, kan dah diumumin, jangan membuka sabuk pengaman sebelum pesawat benar2 berhenti dengan sempurna. Buka sabuk pengaman aja gak boleh lho, apalagi berdiri trus buka tempat bagasi di atas. Untung Mbak2 Pramugarinya sigap, langsung penumpang tersebut diperingatkan untuk duduk kembali. Gak tanggung2, pake pengeras suara. Penumpang lain pada ngeliat, kan malu jadinya.

Dari kejadian2 tersebut diatas, ada beberapa kesimpulan yg bisa kita ambil supaya kejadian tersebut tidak terulang kembali.
  1. Perhatikan dengan seksama Boarding Pass anda.
  2. Pastikan nomer penerbangan yang tertera di Boarding Pass.
  3. Pastikan nomer tempat duduk anda.
  4. Jikalau pesawat tidak menggunakan fasilitas garbarata, anda naik pesawat dari pintu belakang atau depan, sesuaikan dengan nomer tempat duduk anda.
  5. Jikalau sudah menemukan nomer tempat duduk anda, pastikan anda duduk di tempat yg benar (apakah di tengah, di lorong, atau di dekat jendela)
  6. Kalo bingung, mending nanya sama Mbak2 Pramugari atau Mas2 Pramugara nya)
  7. Langsung duduk pada tempatnya, karena kalau anda masih berdiri2 di lorong, penumpang yg lain gak bisa lewat.
  8. Pasang sabuk pengaman.
  9. Matikan telepon genggam.
  10. Tegakkan sandaran kursi.
  11. Buka penutup jendela di samping anda (kalo ente duduk di dekat jendela)
  12. Lipat meja di depan anda.
  13. Berdoa untuk keselamatan.
Tambahan lagi neh, selama lampu tanda kenakan sabuk pengaman menyala, jangan sekali2 membuka sabuk pengaman anda apalagi berdiri.

Kalo kita semua tertib, penerbangan akan berjalan lancar tanpa harus tertunda gara2 hal2 yg tidak seharusnya terjadi. Bayangkan, kalau setiap kali boarding tertunda 10 menit. Kalau dikalkulasikan ke penerbangan selanjutnya, bisa delay lama pesawat tersebut. Ane ambil contoh, pesawat berangkat dari Jakarta ke Surabaya, trus lanjut ke Makasar, trus ke Ambon, trus balik lagi ke Makasar, Surabaya dan Jakarta. Kalaulah disetiap Bandara tersebut terdelay 10 menit aja, udah 1 jam 10 menit total delay yg disebabkan lambatnya proses boarding. Lha, penyebab delay kan gak cuma itu aja, bisa karena traffic padat, cuaca buruk, dan lain2.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua...



Pendaratan Pertama di Pulau Bintan

Mencoba mengenang kembali kisah dua puluh tahun yang lalu, saat dimana ane dan seorang teman berangkat meninggalkan Jakarta menuju ke Pulau ...