Friday, October 27, 2017

Airport Emergency Exercise 2017 (RAJA IV)

Hari Kamis, tanggal 12 Oktober 2017, Bandara RHF melaksanakan kegiatan Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat atau yang biasa dikenal dengan Airport Emergency Exercise (AEE). AEE kali ini lumayan besar, karena melibatkan pihak eksternal Bandara RHF. Selain melibatkan Komunitas Bandara, juga melibatkan unsur lain seperti Regulator (Kemenhub), Pemda, dan juga Militer. Sebenarnya gak hanya AEE aja, tapi ada kegiatan lain yg juga dilaksanakan yaitu Airport Contingency Exercise (ACE) walaupun hanya sebatas Table Top aja.

Kegiatan yg bertajuk RAJA IV diawali dengan adanya demo masa di Bandara yg menolak seorang Pengusaha dari luar daerah yg akan berinvestasi di Tanjungpinang. Kebetulan pengusaha tersebut menggunakan pesawat Bangau Air yg akan mendarat di Bandara RHF hari itu. Masa melakukan demo yg mengarah ke anarkis sehingga mengganggu ketertiban dan keamanan Bandara RHF, dan bahkan sempat menyandera Sekuriti Bandara.

Karena keadaan sudah diluar control, Pak GM Bandara RHF meminta bantuan Komandan Pangkalan Udara TNI AU (Lanud) RHF untuk mengambil alih komado dan melakukan tindakan pengamanan. Danlanud RHF segera berkoordinasi dengan Komandan Pangkalan Udara TNI AL (Lanudal) Tanjungpinang dan Komandan Wing Udara II TNI AL Tanjungpinang  serta Kepolisian Sektor Bandara RHF untuk mengerahkan pasukan mengamankan Bandara RHF. Keadaan segera bisa dikuasai, masa pun dapat dipukul mundur dan Bandara RHF kembali normal.

Namun ternyata masalah belum selesai, Bangau Air mengalami crash di bahu kiri runway 04 yg disinyalir penyebabnya adalah Drone yg tertabrak pesawat dan masuk ke mesin sehingga membuat pesawat menjadi hilang kendali dan jatuh. Tim PKPPK Bandara RHF beserta unsur pendukung segera melakukan tindakan penyelamatan. Pesawat terbakar, namun api dapat segera dipadamkan oleh Tim PKPPK Bandara RHF beserta unsur pendukungnya.

Dalam latihan ini ditampilkan bagaimana Koordinasi di lapangan antar instansi, kemudian kecepatan (respon time) Tim PKPPK dalam melakukan pergerakan ke lokasi kecelakaan dan tindakan penyelamatan. Bagaimana penanganan tim medis terhadap para korban. Lalu pengaturan kendaraan ambulan dan tim penolong yang lain. Gak cuma itu sodara2, masih ada lagi yg ditampilkan, yaitu koordinasi pihak Bandara dan Airnav Indonesia Cabang Pratama Tanjungpinang dalam penerbitan NOTAM, pengaturan pesawat yg akan masuk ke Bandara RHF, termasuk koordinasi di lapangan. Masih ada lagi, yaitu penanganan keluarga penumpang pesawat yg panik. Bagaimana pihak Bandara dan Airline berkolaborasi menangani keluarga penumpang yg panik dan ingin tau keadaan keluarganya yg menjadi penumpang di pesawat tsb.

Secara umum kegiatan berlangsung dengan lancar. Semua pihak yg terlibat, melaksanakan latihan ini dengan sungguh2. Kegiatan ini sudah direncanakan dari pertengahan tahun 2017 dimana ane dan temen2 Airnav juga dilibatkan dalam hal ide dan pembuatan scenario sampai dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Jauh sebelum pelaksanaan kegiatan, para pihak yg terlibat sudah diundang rapat untuk koordinasi dan persiapan pelaksanaan kegiatan.

Ada beberapa penerbangan yg harus tertunda karena kegiatan ini, namun menurut ane kegiatan ini penting dan harus dilaksanakan. Temen2 PKPPK harus melaksanakan latihan ini untuk melatih respon time, kesiapan personil dan kendaraan. Pihak Bandara dalam hal ini Angkasa Pura II juga harus melatih kemampuan pejabat beserta jajaran pendukungnya dalam berkoordinasi dan melakukan tindakan penanganan keadaan darurat dan kontigensi. Temen2 Airnav jg dapat mengukur kemampuan dalam menangani keadaan darurat dan kecepatan dalam penerbitan informasi aeronautika (NOTAM). Airline juga berlatih melakukan tindakan dalam menangani kondisi darurat, seperti penanganan terhadap keluarga penumpang, lalu penanganan terharap pesawat yg harus delay termasuk penanganan penumpang delay. Pihak Kesehatan Bandara, Rumah Sakit, PMI, Militer, Basarnas, dan lain2 yg ane gak bias sebutin satu persatu, mendapat banyak manfaat dari latihan ini.

Masih banyak manfaat kegiatan ini yg ane gak bisa sampaikan, namun intinya dengan rutin berlatih, kita dapat melatih diri dan kemampuan kita dalam menghadapi kondisi darurat. Diharapkan, apanila terjadi hal2 yg tidak diinginkan, kita semua dapat melakukan tindakan yg benar. Dalam kegiatan ini juga ada tim penilai, yg akan memberikan masukan pada saat evaluasi disaat kegiatan telah selesai dilaksanakan.

Karna ada istilah, “lebih baik bermandi keringat di medan latihan daripada bermandi darah dalam perang”, ane rasa cocok untuk kegiatan ini.







Pendaratan Pertama di Pulau Bintan

Mencoba mengenang kembali kisah dua puluh tahun yang lalu, saat dimana ane dan seorang teman berangkat meninggalkan Jakarta menuju ke Pulau ...