Thursday, October 30, 2014

Pas Bandara

Bandara merupakan fasilitas umum terbatas, dimana ada daerah2 tertentu yg tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, barang, dan bahkan kendaraan. Contoh paling simpel ya “runway” atau yg biasa kita sebut "landasan pacu”. Runway itu daerah terlarang untuk dimasuki. Ente gak bisa, jalan2 ke runway sama keluarga, apalagi sampe gelar tiker sembari makan nasi bungkus disana. Gak bisa sodara2, gak bisa...!!!

Gak cuma runway, namun banyak daerah2 di Bandara yg kita orang umum gak boleh masuk. Bisa masuk namun dengan syarat2 tertentu. Kita ambil contoh runway lagi, hanya orang2 dan kendaraan tertentu yg boleh masuk runway. Ada persyaratannya, antara lain :
  1. Punya Pas Bandara (kode areanya harus sesuai)
  2. Pake rompi khusus
  3. Dan yg terakhir, harus dapet ijin masuk runway dari petugas ATC di Tower
 Kalo untuk kendaraan :
  1. Punya Pas Kendaraan
  2. Kendaraan dilengkapi dengan lampu rotary di atapnya
  3. Untuk kendaraan proyek harus dilengkapi sama bendera kotak2 orange putih
  4. Kendaraan harus dilengkapi dengan flame trap yg dipasang di ujung knalpotnya
  5. Supir kendaraan pun harus memiliki TIM (Tanda Ijin mengemudi)
Dari tadi nyebutin kata “Pas Bandara”. Sebenarnya apakah itu...??? Sesuai dengan judul diatas, dalam tulisan yg gak seberapa ini, ane bakal ngebahas tentang Pas Bandara. Tidak seperti yg expert di bidangnya, namun setidaknya ane bisa memberi gambaran secara umum apa itu Pas Bandara yang tentunya dengan bahasa alexander soewondo yg ramah sopan dan bersahabat.

Pas Bandara adalah ijin (tanda ijin) berupa sebentuk kartu, yg berisikan nama pemilik Pas Bandara, Lokasi atau area yg diijinkan, foto yg bersangkutan, nama perusahaan, dan pengesahan dari pembuat Pas Bandara tersebut, yg merupakan ijin untuk masuk ke daerah terbatas di Bandara Udara. untuk mendapatkan Pas Bandara, seseorang harus memenuhi persyaratan2 tertentu yg sesuai dengan peraturan mengenai Pas Bandara.

Adapun aturan mengenai Pas Bandara bisa kita lihat di :
  1. Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, tepatnya pada pasal 210, pasal 334 ayat 1, dan pasal 421 ayat 1.
  2. PP Nomor 3 Tahun 2001 Tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan, yaitu di pasal 51
  3. Peraturan Menteri Perhubungan nomor : PM31 Tahun 2013 Tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional, bisa dilihat di lampiran Bab 5, angka 5.6.
  4. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/2765/XII/2010 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Keamanan Penumpang, Personel Pesawat Udara, dan Barang Bawaan yang Diangkut Dengan Pesawat Udara dan Orang Perseorangan, yaitu di pasal 2 ayat 1, pasal 3 dan pasal 6.
  5. Dan yg terakhir bisa dilihat di Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/100/XI/1985 tanggal 12 November 1985 Tentang Peraturan dan Tata Tertib Bandara Udara, pasal 18.
  6. Aturan yg lain masih ada, yaitu pada SOP (Standard Operation Procedure) masing2 pembuat Pas Bandara, dalam hal ini bisa Otorita Bandara ataupun Kepala Bandara (General Manager).
 Pas Bandara berfungsi sebagai :
  1. Tanda Identitas Pengguna, artinya keberadaan pengguna Pas tersebut namanya tercatat di Bandara tersebut dan mendapat ijin beraktivitas di Bandara tersebut sesuai dengan area yg tertera di Pas Bandaranya.
  2. Tanda ijin masuk ke area tertentu di Bandara, jadi gak sembarang orang bisa masuk suka2 ke area2 tertentu di Bandara. Walaupun punya Pas Bandara, kalo area yg tercatat tidak sesuai, ya gak boleh masuk.
  3. Pengendalian keamanan di wilayah Bandara., kalo ini udah jelas, namanya juga terdaftar, jadi semua teridentifikasi
Ada satu catatan yg harus kita garis bawahi, bahwa walaupun punya Pas Bandara, tapi kalo gak dibawa, ya tetep aja gak boleh masuk. Walaupun kenal sama petugas, ya tetep aja gak boleh masuk.

Eh, ada lagi ding catatan yg harus digaris bawahi, walaupun udah pake Pas Bandara, untuk daerah2 tertentu seperti runway, tetep harus mendapat ijin dari petugas ATC di Tower terkait dengan kegiatan pesawat udara di runway.

Trus trus trus...
Siapa yg berhak mengeluarkan Pas Bandara?
  • Untuk Bandara2 besar yg juga terdapat Kantor Otorita Bandara, Pas Bandara dikeluarkan oleh Otorita Bandara
  • Sedangkan Bandara2 yg disana tidak terdapat Kantor Otorita Bandara, maka Pas Bandara menjadi tanggung jawab Kepala Bandara atau General Manager.
 Pas Bandara memiliki masa berlaku yg disesuaikan dengan kegunaannya :
  1. Pas Tetap (Pas Tahunan dan Pas Bulanan)
  2. Pas Tidak Tetap ( misalnya Pas Visitor)
Ada lagi sodara2 yg perlu kita ketahui, bahwa kode area yg tertera pada Pas Bandara itu meliputi (ini ane ambil dari Pas Bandara Raja Haji Fisabilillah yg ane miliki) :
  • Kode Z untuk Seluruh Are Terminal kecuali Apron dan Gudang
  • Kode A untuk Ruang Kedatangan
  • Kode B untuk Ruang Keberangkatan
  • Kode C untuk Check In
  • Kode P untuk Apron
  • Kode G untuk Gudang
  • Dan Kode V untuk Objek Vital
Di Bandara2 tertentu ada yg menggunakan kode X yg artinya untuk seluruh area termasuk objek vital dan kode Y untuk seluruh area kecuali objek vital.

Yg berhak menggunaka Pas Bandara adalah orang2 yg telah memenuhi persyaratan sbb :
  • Orang2 yg melakukan kegiatan atau mempunyai kepentingan di area terbatas di Bandara
  • Pas Bandara diberikan sesuai dengan area tempat kegiatan orang tersebut, misalnya untuk petugas Ground Handling, area yg diberikan ya Apron
  • Dan yg terakhir adalah orang yg memenuhi persyaratan dan lulus screening.
Pengguna Pas Bandara harus memahami tentang aturan yg ada di Bandara, semisal tidak boleh merokok di area tertentu, menggunakan rompi apabila berada di Apron, dan lain2. Jadi walaupun sudah memiliki Pas Bandara, tetep aja kita gak boleh suka2. Karna kalau kita melanggar aturan yg sudah ditetapkan, Pas Bandara bisa dicabut.

Semoga bermanfaat...


Sunday, October 19, 2014

Pengelolaan Navigasi 168 Bandara oleh AirNav indonesia

Mulai tanggal 1 Oktober 2014, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) resmi menyerahkan pengelolaan Navigasi Penerbangan 168 Bandara UPT kepada AirNav Indonesia. Pelayanan Navigasinya aja sodara2, Bandaranya tetep dikelola oleh Kemenhub melalui Unit Pelaksana tugas (UPT).
Sesuai daftar yg ane ambil dari situs resmi AirNav Indonesia, Bandara2 tersebut adalah :
  1. Cut Nyak Dhien (Nagan Raya)
  2. Maimun Saleh (Sabang)
  3. Lasikin (Sinabang)
  4. Teuku Cut Ali (Tapak Tuan)
  5. Rembele (Takengon)
  6. Binaka (Gunung Sitoli)
  7. Lasondre (Pulau Batu)
  8. FL Tobing (Sibolga)
  9. Sibisa (Parapat)
  10. Aek Godang (Padang Sidempuan)
  11. Silangit (Parapat)
  12. Rokot (Sipora)
  13. Dabo (Singkep)
  14. Raja Haji Abdullah (Tanjung Balai Karimun)
  15. Japura (Rengat)
  16. Pasir Pangaraian (Pasir Pangaraian)
  17. Hang Nadim (Batam)
  18. Depati Parbo (Kerinci)
  19. Muara Bungo (Rimbo bujang)
  20. Fatmawati Soekarno (Bengkulu)
  21. Enggano (Enggano)
  22. Silampari (Lubuk Linggau)
  23. Muko-Muko (Muko-Muko)
  24. Hanandjoedin (Tanjung Pandan)
  25. Radin Inten II (Bandar Lampung)
  26. Pekonserai (Lampung)
  27. Cakrabhuana (Cirebon)
  28. Tunggul wulung (Cilacap)
  29. Dewa Daru (Karimun Jawa)
  30. Blimbingsari (Banyuwangi)
  31. Trunojoyo (Sumenep)
  32. Bawean (Gresik)
  33. Budiarto (Curug)
  34. Sultan Muhammad Salahuddin (Bima)
  35. Sultan Muhammad Kaharuddin (Sumbawa)
  36. FX Seda (Maumere)
  37. Umbu Mehang Kunda (Waingapu)
  38. Komodo (Labuan Bajo)
  39. H Hasan Aroeboesman (Ende)
  40. Frans sales Lega (Ruteng)
  41. Tambolaka (Waikabubak)
  42. AA Bere Tallo (Atambua)
  43. Mali (Alor)
  44. Gewayantana (Larantuka)
  45. David Constantijn Saudale (Rote Ndao)
  46. Tardamu (Sabu)
  47. Soa (Bajawa)
  48. Wonopito (Lewoleba)
  49. Rahadi Oesman (Ketapang)
  50. Susilo (Sintang)
  51. Pangsuma (Putusibau)
  52. Nangapinoh (Nangapinoh)
  53. Tjilik Riwut (Palangkaraya)
  54. Iskandar (Pangkalan Bun)
  55. H Asan (Sampit)
  56. Sanggu (Buntok)
  57. Beringin (Muara Teweh)
  58. Kuala Pembuang (Kotawaringin Timur)
  59. Tumbang Samba (Tumbang Samba)
  60. Kuala Kurun (Kuala Kurun)
  61. Gusti Syamsir Alam (Kotabaru)
  62. Temindung (Samarinda)
  63. Melak (Sendawar)
  64. Kalimarau (Tanjung Redep)
  65. Datah dawai (Datah Dawai)
  66. Juwata (Tarakan)
  67. Seluwing (Malinau)
  68. Nunukan (Nunukan)
  69. Yuvai semaring (Long Bawan)
  70. Tanjung Harapan (Tanjung Selor)
  71. Long Apung (Long Apung)
  72. Naha ( Tahuna)
  73. Melongguane (Sangihe Talaud)
  74. Djalaluddin (Gorontalo)
  75. Mutiara Sis- Al Jufri (Palu)
  76. Morowali (Morowali)
  77. Pogogul (Buol)
  78. Syukuran Aminudin Amir (Luwuk)
  79. Tojo Una Una (Tojo Una Una)
  80. Sultan Bantilan (Toli-Toli)
  81. Kasinguncu (Poso)
  82. Tampa Padang (Mamuju)
  83. Sumarorong (Mamasa)
  84. Pongtiku (Makale)
  85. H. Aroepala (Selayar)
  86. Andi Jemma (Masamba)
  87. Bone (Bone)
  88. Seko (Seko)
  89. Rampi (Rampi)
  90. Bua (Luwu)
  91. Halu Oleo (Kendari)
  92. Matahora (Wakatobi)
  93. Sangia Ni Bandera (Kolaka)
  94. Beto Ambari (Bau-Bau)
  95. Sugimanuru (Muna)
  96. Sultan Baabullah (Ternate)
  97. Emalamo (Sanana)
  98. Buli (Maba)
  99. Kuabang (Kao)
  100. Gamar Malamo (Galela)
  101. Oesman Sadik (Labuha)
  102. Pitu (Morotai)
  103. Ibra (Langgur)
  104. John Becker (Pulau Kisar)
  105. Moa (Maluku Tenggara)
  106. Larat (Larat)
  107. Dobo (Aru)
  108. Mathilda Batlayeri ( Maluku Tenggara Barat)
  109. Bandaneira (Banda)
  110. Kuffar (Seram Timur)
  111. Namlea (Buru)
  112. Namrole (Buru)
  113. Amahai (Seram)
  114. Wahai (Seram)
  115. Sentani (Jayapura)
  116. Dabra (Mamberamo Raya)
  117. Senggeh (Keerom)
  118. Wamena (Jayawijaya)
  119. Elelim (Yalimo)
  120. Douw Aturure (Nabire)
  121. Bilorai (Intan Jaya)
  122. Enarotali (Paniai)
  123. Waghete (Deiyai)
  124. Mararena (Sarmi)
  125. Mulia (Puncak Jaya)
  126. Sudjarwo Tjondronegoro (Serui)
  127. Oksibil (Bintang)
  128. Kiwirok (Bintang)
  129. Moanamani (Nabire)
  130. Kokonao (Mimika)
  131. Akimuga (Mimika)
  132. Bokondini (Jayawijaya)
  133. Numfoor (Biak)
  134. Illaga (Puncak)
  135. Sinak (Puncak Jaya)
  136. Illu (Puncak Jaya)
  137. Tiom (Lanny Jaya)
  138. Batom (Bintang)
  139. Karubaga (Tolikara)
  140. Nop Goliat Dekai (Yahukimo)
  141. Mopah (Merauke)
  142. Senggo (Mappi)
  143. Kamur (Asmat)
  144. Kimam (Merauke)
  145. Bomakia (Boven Digoel)
  146. Okaba (Merauke)
  147. Ewer (Asmat)
  148. Bade (Mappi)
  149. Mindiptanah (Boven Digoel)
  150. Manggelum (Boven Digoel)
  151. Kepi (Mappi)
  152. Tanah Merah (Boven Digoel)
  153. Rendani (Manokwari)
  154. Domine eduard Osok (Sorong)
  155. Segun (Sorong)
  156. Werur (Manokwari)
  157. Marinda (Waisai)
  158. Torea (Fak-fak)
  159. Bintuni (Bintuni)
  160. Utarom (Kaimana)
  161. Merdey (Manokwari)
  162. Wasior (Teluk Womdana)
  163. Inanwatan (Sorong Selatan)
  164. Teminabuan (Sorong Selatan)
  165. Babo (Teluk Bintuni)
  166. Kambuaya (Manokwari)
  167. Kebar (Manokwari)
  168. Ayawasi (Sorong Selatan)
Semoga AirNav Indonesia selalu dapat memberikan pelayanan yg terbaik kepada para pengguna jasa navigasi penerbangan.


Tuesday, October 7, 2014

Bandara Sipil dan Militer

Berawal dari nonton upacara HUT TNI di tipi beberapa waktu yg lalu, jd teringat masa kecil ane waktu masih tinggal di Komplek TNIAU. Maklumlah, bos ane kan dulunya anggota TNIAU. Jadi begitu liat tentara2 pada berbaris rapi, trus devile, ditambah lagi pake acara show force dari kendaraan2 militer plus pesawat2 tempur, membangkitkan memori di masa kecil, seperti suketi yg bangkit di malam satu suro. (lho...??? gak nyambung ya...)

Yuk kita kembali ke pokok permasalahan. Bandara di Indonesia dibagi menurut beberapa kriteria. Kalo sebelumnya ane pernah ngbahas tentang Bandara Intenasional dan nyenggol2 dikit tentang Bandara Domestik, sekarang kita bahas tentang Bandara Sipil dan Militer. Di Indonesia, negara kita tercinta, ada ratusan Bandara, yg memiliki fungsinya masing2 sesuai dengan kebutuhannya. Ada Bandara yg memang dikhususkan sebagai Pangkalan Militer seperti Pangkalan Udara Iswahyudi, namun ada juga Bandara yg dikhususkan untuk kegiatan sipil, seperti Soekarno-Hatta di Jakarta, atawa Kuala Namu di Medan.

Gak Cuma itu sodara2, ada Bandara yg sejatinya milik Militer namun digunakan juga untuk kegiatan penerbangan sipil, misalnya di Halim Perdanakusuma Jakarta. Istilahnya “ENCLAVE SIPIL”, yg kalo bahasa mudahnya adalah Bandara Militer yg juga digunakan untuk kegiatan penerbangan sipil. Sebaliknya ada juga sodara2, Bandara Sipil yg juga digunakan sebagai Pangkalan Militer, atau istilah gaulnya “ENCLAVE MILITER”, contohnya ya gak usah jauh2, Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang. Bandara RHF adalah Bandara Sipil yg juga digunakan sebagai Pangkalan Militer. Gak tanggung2, ada dua Pangkalan Militer disana, TNIAU dan TNIAL.

Untuk Bandara2 Enclave Sipil maupun Militer, tetep ada aturan mainnya. Bisa kita liat di Undang2 nomor 1 tahun 2009 Tentang Penerbangan pada pasal 257, 258, dan 259 Tentang Penggunaan Bersama Bandar Udara. Gak cuma itu agan2, ada Kesepakatan Bersama yg dibuat oleh TNIAU, Direkrorat jenderal Perhubungan Udara, PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II tentang Pengaturan Penggunaan Bersama Bandar Udara dan Pangkalan Udara tanggal 31 Januari 2011 nomor : KB/4/I/2011 dan nomor AU/838/KUM.18/2011.

Dalam hal ini tidak ada pihak yg dirugikan, bahkan kerjasama militer dan sipil dalam penggunaan Bandar Udara tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak saja, namun mendatangkan banyak manfaat, khususnya untuk pengguna jasa penerbangan.

Pendaratan Pertama di Pulau Bintan

Mencoba mengenang kembali kisah dua puluh tahun yang lalu, saat dimana ane dan seorang teman berangkat meninggalkan Jakarta menuju ke Pulau ...