Wednesday, January 29, 2014

Rest Room Untuk ATC Radar TNJ yg Tercinta...

Horeeee... Rest Room nya udah jadi, sederhana namun penuh makna. Ada kasur plus bantalnya, ada sofa sederhana, dan tipi plus PS3 nya. Eh, masih ada lagi, Ruang Sholat untuk lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Alhamdulillah...

Tidak harus mewah, tidak harus canggih, namun cukup nyaman untuk dinikmati. Kalo ngantuk bisa langsung tiduran, kalo suntuk bisa nonton tipi atau yg ingin memacu adrenalin bisa sambil main PS. Yg pasti tidak mengganggu temen2 yg sedang berdinas.

Tidak hanya dituntut bekerja dengan maksimal, namun karyawan juga diberi fasilitas agar semangat dalam bekerja sehingga kualitas pelayanan pun menjadi maksimal. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi dalam segala hal, dari segi fasilitas kerja, fasilitas pendukung kerja, dan lain lainnya...

Yuk liat poto2nya... 


Monday, January 20, 2014

Performance Check Unit ATS Operation AirNav Distrik TNJ

Hari Senin tanggal 20 Januari 2014, Unit ATS Operation AirNav Indonesia Distrik Tanjungpinang melaksanakan Performance Check terhadap petugas ATS, AIS, dan Komunikasi Penerbangan. Performance Check selain untuk memenuhi aturan yg ditetapkan oleh ICAO dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, juga sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas petugas di lingkungan ATS Operation. Performance Check dilaksanakan rutin 6 bulan sekali dengan petugas penguji lokal yg memiliki kualifikasi khusus dan mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Kegiatan Performance Check diawali dengan pembekalan materi yg kemudian dilanjutkan dengan ujian teori pada keesokan harinya. Untuk ATC kegiatan dilaksanakan di ruang rapat gedung radar dan dibagi dalam dua sesi yaitu ADC dan Radar, serta untuk petugas AIS dan Komunikasi Penerbangan kegiatan dilaksanakan di ruang kerja ATS Operation Junior Manager. Pada hari ketiga baru dilakukan ujian praktek dan kemudian dilakukan evaluasi untuk membahas kesulitan2 pada saat ujian dan juga membahas masalah2 yg sering terjadi di lapangan.

Kegiatan Performance Check dilaksanakan dengan sungguh2 demi mendapatkan hasil yg baik yg secara langsung dapat meningkatkan kualitas kerja para petugas ATS. Setelah Performance Check dilaksanakan, maka license masing2 petugas akan dilegalisasi oleh Distrik Manager dan kemudian dapat bekerja kembali di unit kerja masing2 sesuai dengan license dan rating yg dimiliki.

Selamat melaksanakan Performance Check, semoga kegiatan berjalan dengan baik, hasil yg didapatpun baik sehingga kualitas dan semangat kerja meningkat. Petugas puas, konsumen juga bahagia...


Sunday, January 19, 2014

Selamat Datang Susi Air di Bandara RHF

Nambah satu lagi, maskapai penerbangan yg masuk ke Bandara RHF. Adalah Susi Air dengan pesawat Cessna 208 Caravan yg menerbangi rute Dabo Singkep – Tanjungpinang – Dabo Singkep. Mulai hari ini, Senin tanggal 20 Januari 2014, Susi Air memulai penerbangan perdana perintis dari Dabo Singkep ke Bandara RHF Tanjungpinang dan kembali lagi ke Dabo Singkep. Rencana penerbangan akan rutin seminggu sekali setiap Hari Senin.

Alhamdulillah, penerbangan perdana berjalan lancar tanpa suatu kendala berarti. Pesawat mendarat pada pukul 11:16 WIB dan kembali ke Dabo Singkep pada pukul 13:21 WIB. Semoga penerbangan selalu lancar, dan penumpang terus bertambah sehingga frekuensi penerbangan bisa ditambah.


Kini masyarakat Tanjungpinang dan Dabo Singkep tidak harus menggunakan moda transportasi laut, karena sudah ada satu pilihan lain yaitu terbang bersama Susi Air. Selamat datang Susi Air, selamat bertugas memberikan pelayanan yg terbaik kepada para pengguna jasa penerbangan.

Tuesday, January 14, 2014

Kehilangan Bagasi

Lagi2 berita di tipi, seorang istri perwira polisi mengaku bagasinya telah dicuri. Doi mengaku mengalami kerugian ratusan juta. Lah, koq bisa...??? Emang doi bawa apaan sih, koq bisa sampe ratusan juta. Seumur-umur ane naik pesawat, bagasi paling mewah ane ya piso cukur gillette mach 3 warna merah.

Yg ada dalam pikiran ane, yg namanya barang mewah, ya seharusnya kemanapun kita pergi ya harus tetep bersama kita. Lha dompet aja yg kita kantongin kemana-mana masih ada resiko kena copet, gimana lagi dengan bagasi yg keberadaannya diluar pengamatan kita. Walaupun bagasi udah pake gembok 200 biji, tetep aja yg namanya maling akalnya banyak. Lha Bank aja yg udah dijagain sama aparat masih bisa dibobol penjahat.

Jadi menurut ane yg namanya barang berharga ya jangan ditarok di bagasi, ngundang maling soalnya. Maling kan bekerja berdasarkan kesempatan dalam kesempitan. Ibarat kata striker dalam sepak bola, begitu ada umpan, ada kesempatan, pas pulak kipernya gak ada, ya gol.

Yuk, untuk sekedar tau, gimana sih sebenarnya rute perjalanan barang bagasi kita dimulai dari saat kita check in. Pada saat check in, bagasi kita ditimbang, dicatat beratnya, diberi label yg isinya adalah identitas dari bagasi itu sendiri. Maksudnya adalah, bagasi diberi nomer seri, keterangan berat, bandara tujuan, serta nomer penerbangan sehingga bagasi bisa sampai di tujuan dengan selamat. Setelah itu, mbak2 petugas check in meletakkan bagasi kita pada konveyer alias ban berjalan yg membawa bagasi itu ke tempat pengumpaulan bagasi. Disana udah ada petugas yg memilah milah bagasi sesuai dengan nomer penerbangan dan tujuannya. Bagasi kemudian dimasukkan kedalam gerobak atau troli yg kemudian dibawa ke pesawat sesuai dengan tujuan dan nomer penerbangan.

Setelah bagasi sampai di tujuan, bagasi diambil sama petugas lalu dibawa ke ruang kedatangan. Melalui mesin konveyer, bagasi didistribusikan kepada penumpang. Penumpang mengambil bagasi sesuai dengan kepemilikannya masing2. Sebelum bagasi dibawa keluar oleh penumpang, ada petugas khusus di pintu keluar yg memastikan kepemilikan bagasi dengan mencocokkan label yg ada di bagasi dengan label yg dipegang penumpang.

Lha, trus koq bisa sih ada kasus kehilangan bagasi atau isi bagasi dicuri? Trus apa yg harus kita lakukan apabila kita mengalami kasus kehilangan bagasi atawa isi bagasi dicuri?

Modus pencurian isi bagasi, terus terang aja ane kurang tau. Tapi yg namanya Bandara, banyak tempat sepi yg memang berada di luar jangkauan CCTV ataupun pengawasan dari pihak keamanan, disanalah kesempatan para penjahat beraksi. Nah, gimana caranya supaya isi bagasi gak dicuri? Kan skrg ada yg namanya stripping bagasi dan wraping bagasi, itu adalah salah satu cara melindungi bagasi kita. Dan tentunya jangan pernah memasukkan benda berharga anda ke bagasi. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Trus gimana kalo bagasi udah terlanjur dicuri? Atau malah ilang, amblas kabeh? Kita laporkan kepada pihak Maskapai Penerbangan dan pihak keamanan di Bandara. Untuk masalah ganti rugi, kayaknya sih setiap Maskapai Penerbangan menerapkan aturan dan kebijakan yg berbeda-beda.

Namun yg jelas, penumpang pasti menjadi pihak yg paling dirugikan. Makannya, sekali lagi ane ingatkan, jangan pernah meletakkan barang berharga dalam bagasi anda. Urusannya panjang, kalaupun barang itu ketemu dan katakan malingnya ketangkep, ente udah buang2 waktu dan energi bakal ngurusin hal seperti itu. Padahal seharusnya ente turun dari pesawat udah bisa langsung ke rumah atau tujuan, bisa istirahat dan lain-lain tanpa harus nunggu berjam-jam ngurusin bagasi yg ilang. Tinggal pilih aja, mau enak apa mau repot...

Friday, January 10, 2014

Beralih ke Bandara Halim Perdanakusuma

Dari pagi sampe siang ini tiap liat tipi yg muncul cuma dua berita aja, yg pertama pemanggilan Anas Urbaningrum ke KPK dan yg kedua pengalihan beberapa penerbangan komersil berjadual Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Halim Perdanakusuma. Berhubung yg dibahas sama alexander soewondo hanya berkisar di dunia penerbangan, terpaksa kasus Anas Urbaningrum vs KPK gak kita bahas. Alexander soewondo kan Blog penerbangan, bukan Blog politik, jadi Admin harus konsekuen dengan mottonya “ATC, Bandara Raja Haji Fisabilillah, & Dunia Penerbangan menurut kacamata alexander soewondo”.

Jadi ceritanya gini sodara2. Semua itu berawal dari kapasitas Bandara Soeta yg udah melebihi ambang batas, yg mana akibat dari itu semua banyak penerbangan yg akhirnya harus terdelay. Contoh sederhana aja, dalam satu jam, runway di Bandara Soeta hanya sanggup menampung 70an pergerakan, sedangkan aktualnya lebih dari itu. Akibatnya pesawat harus di holding di udara maupun di darat. Terjadi antrian yg panjang pada jam2 tertantu yg tentu saja mengakibatkan delay.

Setau ane, udah banyak cara dilakukan untuk memecah kepadatan pergerakan pesawat pada jam2 tertentu. Salah satunya meninjau ulang slot time yg telah diberikan dan menambah jam operasi di beberapa Bandara sampai jam 12 malam, pemisahan control tower Utara dan Selatan. Pokoknya macem2 dah, ane gak sanggup untuk ungkapkan satu per satu. Namun itu semua belum cukup, kondisi tidak terlalu berubah, tetep ngantri di udara dan di darat. Tetep delay dan penumpang kecewa.

Akhirnya ada satu wacana yg kemudian terealisasi, yaitu pengalihan beberapa penerbangan Bandara Soeta ke Bandara Halim Perdanakusuma (kita sebut aja Bandara Halim, kepanjangan soalnya, ane capek ngetiknya). Ini menimbulkan pro dan kontra. Ada beberapa pihak yg mendukung namun banyak pula yg kecewa. Buat beberapa pihak, pengalihan penerbangan ke Bandara Halim dinilai dapat mengurangi beban Bandara Soeta. Namun untuk beberapa pihak, ini bukan solusi tapi justru malah membuat masalah baru.

Setau ane, di Bandara Halim ada beberapa Squadron TNI AU, yg artinya akan selalu ada aktivitas pergerakan pesawat militer. Lha kalo digunakan sebagai Bandara Komersil, mau gak mau yg militer kan terganggu. Pergerakan pesawat militer kan gak selalu latihan perang, ada yg touch and go, trainning ke area, aerobatic flight, formation flight, macem2 dah pokoknya.

Trus di Halim itu juga digunakan sebagai sekolahan calon penerbang. Dimana para siswa melakukan aktivitas belajar terbang (eh belajar menerbangkan pesawat maksudnya). Dan trainning flight dalam dunia perATCan adalah prioritas terakhir, artinya mesti ngalah sama yg komersil dan militer. Kan kesian juga tuh para siswa, mesti pinter2 nyari waktu buat latihan terbang.

Lha, masih banyak lagi masalah yg ditimbulkan. Antara lain pergerakan pesawat kepresidenan dan para tamu negara yg mengharuskan Bandara Halim steril untuk beberapa saat. Wah, macem2 dah. Terkesan sok tau banget ane yak...??? Tapi kenyataan koq sodara2, secara lulus dari PLP Curug, ane kan sempet magang di Tower Halim, makannya ane tau banget kondisi disindang (eh disana maksudnya).

Namun biar gimana, dengan dialihkannya beberapa penerbangan ke Bandara Halim, beban Bandara Soeta jadi berkurang sedikit. Kemungkinan delay bisa diminimalisir. Walaupun sebenarnya ini bukan solusi terbaik untuk jangka panjang. Karena biar gimana, pertumbuhan pesawat, penumpang dan kargo akan terus bertambah seiring dengan perkembangan jaman.

Nah, sebagai pengamat dunia penerbangan yg masih bau kencur, ane punya pendapat. Untuk mengurangi beban Bandara Soeta, ada beberapa hal yg bisa dilakukan, semisal penambahan runway baru, penambahan jumlah taxiway, penambahan terminal baru, peninjauan ulang dan pengaturan slot time, navaid baru. Masih ada lagi, yaitu pemberlakuan biaya landing fee yg mahal pada jam2 tertentu dalam hal ini pada jam2 spesial yg biasa disebut peak hour atau golden time, dan pemberlakuan tarif murah atau bahkan gratis untuk penerbangan tengah malam.

Ane berharap, pemerintah dalam hal ini Departemen Perhubungan, Angkasa Pura II, dan juga AirNav Indonesia dapat segera menemukan solusi terbaik untuk ini semua tanpa ada pihak yg dirugikan. Semoga semuanya berjalan lancar tanpa suatu kendala.

Sunday, January 5, 2014

Teliti Sebelum Membeli (Tiket)

Terus terang aja, tulisan ini terinspirasi dari berita di tipi dan juga pengalaman di Bandara RHF. Kalo ada istilah teliti sebelum membeli, lha ini berlaku juga kalo kita beli tiket pesawat. Seperti beberapa kejadian yg ane ketahui dari tipi, dimana penumpang marah2 ke konter tiket salah satu maskapai penerbangan lantaran rute penerbangan yg tertulis di tiket tidak sesuai. Semisal doi pengen terbang dari Denpasar ke Jakarta, lha yg tertulis di tiket justru sebaliknya, Jakarta ke Denpasar. Kan kasus jadinya, pihak Maskapai Penerbangan ngotot bahwa penumpang yg salah, lha penumpang juga merasa tertipu, lha dia pengen ke Jakarta koq malah jadi sebaliknya.

Sebenarnya siapa yg salah...??? Yuk kita kaji bersama-sama. Sesuai apa yg ane tau, sesuai dengan pengalaman ane selama ini kalo beli tiket pesawat, baik melalui Travel ataupun langsung datang ke Kantor Pemasaran tiket Maskapai Penerbangan, petugas selalu menanyakan rute penerbangan yg akan kita gunakan, darimana mau kemana. Gak pernah ane mengalami hanya ditanya mau kemana, selalu “darimana mau kemana”. Tidak lupa mereka selalu menanyakan hari dan tanggalnya.

Trus begitu nama kita dimasukkan ke sistem mereka, mereka beritahu harga tiket dan mengulangi lagi hari dan tanggal keberangkatan serta rute penerbangan kita darimana kemana (terkadang sampe bosen dengernya). Tapi ane tau, ini adalah pertanyaan standar para mbak2 dan mas2 reservasi tiket, tujuannya untuk meminimalisir kesalahan. Ane yakin, pasti mereka punya SOP, soalnya apapun Maskapai Penerbangan yg ane gunakan, kata2nya selalu sama.

Setelah kita bilang iya, barulah tiket dicetak dan sebelum diserahkan kepada kita, mbak2 tiketing akan membaca ulang rute penerbangan yg akan kita gunakan (darimana ke mana), nomer penerbangan, hari dan tanggal keberangkatan, jam keberangkatan dan jam berapa harus sudah berada di Bandara. Bahkan untuk beberapa Maskapai Penerbangan, beberapa jam sebelum keberangkatan, ada petugas khusus yg menelpon kita untuk sekedar konfirmasi dan mengingatkan keberangkatan kita atau menginformasikan apabila terjadi perubahan waktu keberangkatan.

Lha trus kalo sampe terjadi kesalahan seperti kejadian di atas, siapa yg harus disalahkan? Menurut ane sih, kalo mbak2 tiketingnya udah bekerja sesuai dengan SOP nya, ya yg beli tiket yg salah. Kan tuh mbak2 tiketing udah konfirmasi ulang sebelum tiket di issued. Bahkan sebelum tiket diserahkan kepada pembeli pun, mbak2 tiketing juga membaca ulang sembari menerangkan atau menjelaskan kepada si pembeli tiket mengenai segala hal yg berhubungan dengan keberangkatan. Dan pembeli tiket seharusnya memeriksa ulang isi tiket, jangan langsung2 aja bayar trus cabut.

Namun kalo mbak2 tiketingnya bekerja tidak sesuai dengan SOP nya, semisal gak pake acara konfirmasi ulang mengenai rute penerbangan darimana kemana, trus tanggal dan jam keberangkatan, udah pasti mbak2 tiketing itu yg salah, walaupun dalam hal ini si pembeli tetep juga salah, lantaran gak teliti. Kan biar gimana, yg namanya beli barang, kita ngeluarin duit, ya mesti ati2. Orang lain bisa salah, namun kita jangan. Walaupun pada akhirnya tiket kita diganti sama maskapai penerbangan, namun kita udah buang2 energi, kita udah buang2 waktu plus pake acara emosi jiwa tak tertahankan...

Jadi, teliti sebelum membeli adalah yg terbaik yg harus kita lakukan...

Wednesday, January 1, 2014

NOTAM

Di tulisan sebelumnya, ane sempat nyenggol2 yg namanya “NOTAM”. Yuk kita ngemengin masalah NOTAM. Seperti biasa, ane gak pake bahasa yg formal yg ane rasa cukup njelimet, ane cukup menggunakan bahasa yg mudah, agar dapat dipahami oleh temen2 semua terutama yg bukan dari kalangan aviation.

NOTAM singkatan dari “Notice to Airmen”. NOTAM adalah itu adalah semacam pengumuman atau informasi tentang sebuah perubahan, atau sesuatu yg baru, yg menyangkut keselamatan penerbangan dan harus segera diumumkan. Ini bukan definisi lho, karena definisi NOTAM itu menurut ane terlalu rumit untuk dipahami oleh sodara2 yg awam dunia penerbangan, jadi intinya ya itu yg ane ungkapkan di atas barusan.

Nah kalo berdasarkan ICAO Annex 15, NOTAM adalah informasi penting yg dapat mempengaruhi keselamatan penerbangan dan dipublikasikan dengan jaringan AFTN yg berisikan tentang pendirian, perubahan terhadap fasilitas penerbangan, pelayanan, prosedur atau halangan disertai dengan waktu kapan mulai diberlakukan dan kapan waktu berakhirnya.

Trus kalo menurut ICAO Doc. 8126, informasi yg harus diterbitkan melalui NOTAM adalah informasi yg bersifat sementara, informasi yg berhubungan dengan AIP (Aeronautical Information Publication), informasi yg bersifat permanen dan penting secara operasional untuk segera diberitahukan segera dan informasi yg bersifat sementara dan memiliki masa berlaku yg lama dan perlu diberitahukan segera.

Informasi apa aja yg bisa dipublikasikan melalui NOTAM...??? Macem2 sodara2, kalo mau lengkapnya ya silahkan baca ICAO Annex 15 Chapter 5. Ane sederhanakan aja ya, supaya mudah dipahami dan gak bikin mumet. Informasi yg dipublikasikan melalui NOTAM semisal mengenai penutupan sampai pembukaan suatu Bandara beserta alasan penutupannya, kerusakan fasilitas sampai mulai diaktifkannya kembali setelah diperbaikan, segala aktifitas yg mengganggu kegiatan penerbangan (VIP Movement, Gunung Meletus, Kabut Asap, Military Exercise, pharachute Jumping Exercise, Airshow, Work in Progress, dll), trus jikalau ada perubahan mengenai Rescue & Fire Fighting Category, bencana alam (banjir atau gunung meletus), dan lain2 yg dapat mengganggu kegiatan penerbangan.

NOTAM memiliki bahasa yg baku yg merupakan bahasa khusus standar ICAO. Ini tujuannya ya untuk memudahkan dalam menterjemahkan isinya. Namanya juga pembeitahuan, NOTAM harus didistribusikan kepada unit2 terkait yg berhubungan langsung dengan informasi yg ada dalam NOTAM tersebut.

Lha, trus mekanisme penerbitan NOTAM gimana? Pertama Bandara melalui AIS Officer (Perum LPPNPI) mengusulkan penerbitan NOTAM kepada NOTAM Office di Jakarta. Usulan penerbitan pun memalui format yg baku dan gak sembarangan. Sesuai pengalaman, biasa ane kalo ngusulin penerbitan NOTAM, ane telpon juga tuh ke NOTAM Office, apakah “row data” yg kita kirim kesana sudah diterima atau belum, lalu konfirmasi apakah NOTAM sudah diterbitkan atau belum. Semisal ada kendala, bisa langsung di folow up, sehingga NOTAM bisa terbit sesuai dengan waktu yg diinginkan. Begitu NOTAM Office menerbitkan NOTAM yg kita usulkan tadi, kita langsung mendistribusikan kepada temen2 di Maskapai Penerbangan, termasuk juga kepada Unit2 lain yg berhubungan dengan jasa Bandara dan Navigasi Penerbangan, semisal kalo di Tanjungpinang ya ke TNI AL dan TNI AU karena Bandara RHF juga digunakan untuk kegiatan militer kedua instansi tersebut.

Simpel aja Bro, namun sangatlah penting lantaran berpengaruh langsung terhadap keselamatan dan kelancaran operasi penerbangan. Semoga bermanfaat...

2014, “alexander soewondo” Berganti Wajah

Namanya juga Tahun Baru, semangat baru, harapan baru dan tentunya wajah baru. Yes, alexander soewondo berganti wajah. Kalo tahun 2013 background menggunakan warna dominan coklat keemasan dihiasi potret Gedung Tower Bandara RHF, memasuki tahun 2014 alexander soewondo berubah wajah dengan dominan warna hijau.

Tujuannya selain untuk menyegarkan pandangan para pembaca sekalian, juga mengingatkan kita semua untuk kembali mengingat kepada alam. Peduli kepada lingkungan sekitarnya, dan lebih mencintai bumi tempat kita tinggal. Istilah kerennya “go green”.

Semoga di tahun 2014 ini alexander soewondo dapat selalu berbagi pengetahuan tentang dunia penerbangan, manambah wawasan kita semua, dan tentunya sebagai ajang pembelajaran terutama buat penulisnya yg ganteng ini.

Selamat Tahun Baru 2014, selamat memulai, menjalankan, melanjutkan, dan menikmati tahun 2014 ini semoga dunia penerbangan semakin maju dan bermanfaat untuk kebaikan umat manusia dan alam semesta...

Pendaratan Pertama di Pulau Bintan

Mencoba mengenang kembali kisah dua puluh tahun yang lalu, saat dimana ane dan seorang teman berangkat meninggalkan Jakarta menuju ke Pulau ...